Kubur Batu Nuabari, Warisan Kebudayaan Megalitikum di Flores
Nuabari tidak banyak yang mengetahui nama perkampungan ini. Nama Nuabari
berasal dari seseorang yang bernama Bari yang di anggap menjadi penghuni
pertama dari kampung tersebut. Nua berarti kampung maka Nuabari berarti Kampung
Bari. Kampung Nuabari berjarak kurang lebih 52 km arah selatan kota Maumere dan
dapat di tempuh kurang lebih 1-2 jam dari Kota Maumere dengan menggunakan mobil
atau sepeda motor.
Nuabari
letaknya di Desa Lenandareta, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka-Flores, NTT.
Di Kampung Nuabari terdapat banyak kuburan manusia dibuat dari
batu.
Sudah
menjadi tradisi warga setempat, mengambil batu dari kali untuk dijadikan
kuburan bagi sanak saudara yang meninggal. Penduduk setempat membuat kuburan
dari batu jauh hari sebelum seseorang meninggal. Ketika masih hidup kubur sudah
disiapkan terlebih dahulu. Persiapan kubur ini adalah tradisi yang masih
bertahan hingga sekarang.
Batu yang
diambil dari kali, dipikul dengan berjalan kaki sepanjang 3-4 km. Pengerjaan batu
di suatu lokasi yang jauh dari Desa. Setelah selesai dikerjakan akan dibawa ke
Desa dengan upacara adat. Tradisi memahat batu untuk tempat menguburkan
mayat dikerjakan dengan alat sederhana. Walaupun begitu, kerja gotong
royong dapat menyelesaikan pemahatan batu.
Setiba di
rumah, batu itu dimasukan sebatang pisang. Ada larangan agar tak boleh
membiarkan kubur batu itu dalam keadaan kosong hingga pemilik kubur meninggal
dunia. Jika kubur ditinggalkan kosong maka manusia yang berumur muda akan
menjadi korban. Seorang muda dari anggota dalam satu pohon keluarga akan mati
mendadak lantaran kubur tak terisi dengan batang pisang.
Bila
seorang anggota dari keluarga meninggal maka jenazah dimasukan dalam kuburan
batu dengan posisi sebagaimana layaknya janin bayi saat masih dalam kandungan
ibu. Kubur itu ditutupi dengan batu lempeng ceper pada
permukaannya. Untuk menghindari tak tercium rasa bau dari mayat, batu
ditempeli abu dapur dicampuri dengan air tuak putih dari pohon aren
sebagai bahan perekat.
Biasaya kuburan
batu diletakan persis di halaman depan rumah tinggal keluarga. Mayat dibiarkan
hingga daging dan bagian usus menjadi hancur. Kemudian kubur dibuka lagi untuk
mengambil tulang-tulang dan dicuci dengan air. Kesempatan ini digunakan
untuk memperlihatkan tulang-tulang kepada anggota keluarga yang tidak
menghadiri upacara penguburan.
Namun,
bagi keluarga yang belum mampu melaksanakan upacara adat maka jenazah
dikebumikan dalam rumah. Keluarga menggali tanah dalam rumah untuk menguburkan
mayat. Kalau keluarga berduka sudah menyiapkan segala keperluan adat
kematian maka kubur digali untuk mengambil tulang-tulang dan selanjutnya
dimasukan ke dalam peti yang terbuat dari batu itu.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar